Jumat, 01 Desember 2017

Makalah Seks and Gender

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolongan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah berjudul “Analisis Kesetaraan Gender dalam Peran Jenis Kelamin Sosial”. Makalah ini dibuat oleh penulis untuk menyelesaikan tugas semester enam pada mata kuliah Pengkajian Budaya. Dalam pembuatan makalah ini kami menyampaikan terima kasih kepada miss Retno Budi Astuti selaku dosen mata kuliah Pengkajian Budaya yang telah membimbing kami dalam mengerjakan makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa yang sudah memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusunan bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah Pengkajian Budaya ini. Akhirnya kami mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.








Bekasi, Maret 2017
                                                                                                                                                     Penyusun




BAB 1
PENDAHULUAN


1.2  Latar Belakang
      1.1.1 Pengertian Seks
Jenis kelamin merupakan suatu akibat dari dimorfisme seksual, yang pada manusia dikenal menjadi laki-laki dan perempuan. Konsep seks atau jenis kelamin mengacu pada perbedaan biologis antara perempuan dan laki–laki, pada perbedaan antara tubuh laki-laki dan perempuan. Seks berarti perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai mahluk yang secara kodrati memiliki fungsi-fungsi organisme yang berbeda.
Jika kita berbicara mengenai istilah ‘seks’ berarti kita berbicara pria ataupun wanita yang pembedaannya berdasar pada jenis kelamin. Dalam kata lain, seks merujuk pada pembedaan antara pria dan wanita berdasar pada jenis kelamin yang ditandai oleh perbedaan anatomi tubuh dan genetiknya. Perbedaan seperti ini lebih sering disebut sebagai perbedaan secara biologis atau bersifat kodrati, dalam artian sudah melekat pada masing-masing individu semenjak lahir.
Seks berarti perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai mahluk yang secara kodrati memiliki fungsi-fungsi organisme yang berbeda. Dalam arti perbedaan jenis kelamin seks mengandung pengertian laki-laki dan perempuan terpisah secara biologis((jenis kelamin biologis).  Laki-laki  memiliki fisik yang kuat, otot yang kuat, memiliki jakun, bersuara berat, memiliki penis, testis, sperma, yang berfungsi untuk alat reproduksi dalam meneruskan keturunan. Perempuan dan laki-laki memiliki ciri yang berbeda. Perempuan memiliki hormon yang berbeda dengan laki-laki, sehingga terjadi menstruasi, perasaan yang sensitif, serta ciri-ciri fisik dan postur tubuh yang berbeda dengan laki-laki, seperti bentuk pinggul yang lebih besar daripada laki-laki. Secara biologis alat-alat biologis tersebut melekat pada laki-laki dan perempuan selamanya, fungsinya tidak dapat dipertukarkan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologi atau ketentuan Tuhan (kodrat).

      1.1.2 Pengertian Gender
Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman.Pengertian gender juga masih berkutat antara pria dan wanita. Pembahasan gender lebih menekankan pada karakteristik seperti perilaku, sikap, dan peran yang menempel atau ada pada pria dan wanita yang berasal dari konstruksi sosial. Karena itu, karakteristik tersebut (perilaku, sikap, dan peran) dapat dipertukarkan.
Oleh karena itu, karena gender tercipta dari konstruksi sosial, maka gender bersumber dari manusia atau masyarakat. Apa yang menjadi perbedaan antara pria dan wanita seperti harkat dan martabatnya dapat saling dipertukarkan. Perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan itu tidak ditentukan karena antara keduanya terdapat perbedaan biologis atau kodrat, tapi dibedakan atau dipilah-pilah menurut kedudukan, fungsi dan peranan masing-masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

      1.1.3 Perbedaan Antara Seks dan Gender
Seks dapat diartikan sebagai Jenis Kelamin Biologis, sedangkan Gender dapat diartikan sebagai Jenis Kelamin Sosial.
Seks mengacu pada perbedaan-perbedaan biologis seperti; kromosom, bentuk hormon, organ seks internal dan eksternal. Sedangkan Gender menjelaskan karateristik mengenai maskulinitas dan femininitas yang digambarkan oleh masyarakat atau budaya.Apa yang disebut dengan ‘laki-laki sejati’ dalam tiap budaya mencakup jenis kelamin laki-laki serta beberapa gambaran dari budaya mengenai karakteristik maskulin dan perilaku, sama halnya dengan ‘perempuan sejati’ yang terdiri dari jenis kelamin perempuan dan karakteristik feminin.
Pengertian gender juga masih berkutat antara pria dan wanita. Berbeda dengan ‘seks’, dalam gender perbedaan antara pria dan wanita lebih diciptakan oleh konstruksi lingkungan atau sosial yang ada. Pembahasan gender lebih menekankan pada karakteristik seperti perilaku, sikap, dan peran yang menempel atau ada pada pria dan wanita yang berasal dari konstruksi sosial. Karena itu, karakteristik tersebut (perilaku, sikap, dan peran) dapat dipertukarkan. Dalam hal ini, pria dapat berperan selayaknya pria namun juga bisa berperan sebagai wanita (menjalani nilai-nilai feminin: memasak, menjahit, menjaga anak, dan sebagainya). Sedangkan wanita juga dapat berperan sebagaimana seorang wanita, namun sudah banyak sekarang wanita yang menggeluti peran pria juga (menjalani nilai-nilai maskulin: menarik becak, bekerja di kantor sebagai wanita karir, supir Busway, dan sebagainya).
Oleh karena itu, karena gender tercipta dari konstruksi sosial, maka gender bersumber dari manusia atau masyarakat. Apa yang menjadi perbedaan antara pria dan wanita seperti harkat dan martabatnya dapat saling dipertukarkan. Pembedaan manusia seperti ini berdampak pada terciptanya norma-norma tentang ‘pantas’ dan ‘tidak pantas’ sehingga sering merugikan salah satu pihak yang mana kebetulan adalah wanita.
Gender dan jenis kelamin mempunyai perbedaan arti. Agar dapat memahami konsep gender yang sebenarnya, marilah kita menelusuri berbagai arti yang diambil dari sumber-sumber yang kredibel: Menurut WHO (2010) perbedaan gender dan seks adalah sebagai berikut:
“Seks” refers to the biological and physiological characteristics that define men and women. “Gender” refers to the socially constructed roles, behaviours, activities, and attributes that a given society considers appropriate for men and women.
Dari definisi yang dimaksud oleh WHO diatas, terlihat bahwa jenis kelamin (seks) adalah perbedaan biologis dan fisiologis yang dapat membedakan laki-laki dan perempuan. Sedangkan gender lebih menitikberatkan pada konstruksi sosial yang ditanamkan oleh masyarakat seperti peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang suatu masyarakat tertentu dianggap tepat untuk pria dan wanita. WHO juga menjelaskan bahwa “pria” dan “perempuan” adalah kategori jenis kelamin, sementara “maskulin” dan “feminin” adalah kategori-kategori gender.
Jadi secara umum gender disebut sebagai wacana yang digunakan untuk mengidentifikasi gejala-gejala yang dialami oleh laki-laki dan perempuan yang erat kaitannya dengan sosial dan budaya. Berbeda dengan jenis kelamin (seks) yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara kodrati dan primordial dari segi anatomi-biologis.
Kalau gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah seks (dalam kamus bahasa Indonesia juga berarti "jenis kelamin") lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya.
Gender berbeda dengan jenis kelamin (seks). Seks adalah pembagian jenis kelamin yang secara biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Oleh karena itu, konsep jenis kelamin digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan unsure biologis dan anatomi tubuh. Misalnya, laki-laki memiliki penis, testis, jakun, memproduksi sperma dan cir-ciri biologis lainnya yang berbeda dengan biologis perempuan. Sementara perempuan mempunyai alat reproduksi seperti rahim, dan saluran-saluran untuk melahirkan, memproduksi telur (indung telur), vagina, mempunyai payudara dan air susu dan alat biologis perempuan lainnya sehingga bisa haid, hamil dan menyusui atau yang disebut dengan fungsi reproduksi.
Menurut Santrock (2003: 365) gender dan seks memiliki perbedaan dari segi dimensi. Isilah seks (jenis kelamin) mengacu pada dimensi biologis seorang laki-laki dan perempuan, sedangkan gender mengacu pada dimensi sosial-budaya seorang laki-laki dan perempuan.  Gender diartikan sebagai konstruksi sosiokultural yang membedakan karakteristik maskulin dan feminim. Moore (Abdullah, 2003: 19) mengemukakan bahwa  gender berbeda dari seks dan jenis kelamin laki-laki dan  perempuan yang bersifat biologis. Istilah  gender dikemukakan oleh para ilmuwan sosial dengan maksud untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan laki-laki yang mempunyai sifat bawaan (ciptaan Tuhan) dan bentukan budaya (konstruksi sosial).  Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Jenis Kelamin (Seks)
Gender
Merupakan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan.
Merupakan perbedaan peran, hak, dan kewajiban, kuasa dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat.
Perbedaan seks sama diseluruh dunia bahwa perempuan bisa hamil sementara laki-laki tidak, sifatnya Universal.
Gender tidak sama di seluruh dunia, tergantung dari budaya dan perkembangan masyarakat di satu wilayah, sifatnya lokal.
Perbedaan seks tidak berubah dari waktu ke waktu. Dari dulu hingga sekarang dan masa datang , laki-laki tidak mengalami menstruasi dan tidak dapat hamil.
Gender berubah dari waktu ke waktu. Setiap peristiwa dapat merubah hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.

Perbedaan diantara keduanya dapat di lihat pada tabel berikut ini: 
Jenis Kelamin
Contoh
Gender
Contoh
Tidak dapat di ubah
Alat kelamin
Dapat di ubah
Peran dalam kegiatan sehari-hari
Tidak dapat di pertukarkan
Jakun pada laki-laki dan payudara pada perempuan
Dapat di pertukarkan
Suami bisa menggantikan peran istri dalam mengasuh anak ataupun memasak di saat istri berhalangan
Berlaku sepanjang masa
Status sebagai laki-laki dan perempuan tidak pernah berubah sampai kita mati
Tergantung kepada kebudayaan
Pada Zaman penjajahan Belanda kaum perempuan tidak mendapatkan hak pendidikan. Tapi setelah kita merdeka, perempuan memiliki kebebasan mengikuti pendidikan
Berlaku dimanapun berada
Dirumah, di kampus ataupun di mana sorang laki-laki tetap laki-laki dan perempuan tetap perempuan
Tergantung pada budaya setempat
Pembatasan kesempatan di bidang pekerjaan terhadap prempuan di karenakan budaya setempat, contohnya perempuan lebih diutamakan untuk menjadi perawat, guru TK dan mengasuh anak
Merupakan kodrat Tuhan
Ciri utama laki-laki berbeda dengan perempuan
Bukan merupakan kodrat Tuhan
Sifat atau mentalitas antara lelaki dengan perempuan bisa saja sama
Ciptaan Tuhan
Perempuan bisa haid, hamil, melahirkan dan menyusui sedangkan laki-laki tidak bisa
Buatan Manusia
Laki-laki danperempuan berhak menjadi calon ketua RT, RW, kepala desa bahkan presiden.



1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Kesetaraan Gender Mempengaruhi Peran Jenis Kelamin Sosial


1.3 Tujuan
            Makalah ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para pembaca tentang Seks dan Gender, dan bagaimana keseteraan Gender dapat mempengaruhi peran jenis kelamin sosial(Gender). Selain itu, penulisan ini juga bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengkajian Budaya pada semester enam.















BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teoritis
            Kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas) serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan. Terwujudnya kesetaraan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, kontrol atas pembangunan dan memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.
            Didalam dunia kerja, sebuah perubahan dan inovasi adalah sebuah kebutuah untuk suatu perusahaan melangkah maju. Dunia pekerjaan dulu didominasi oleh kaum laki-laki, namun seiring berjalannya waktu, peningkatan tenaga kerja wanita tiap tahun semakin meningkat. Banyak sekali kaum perempuan yang bekerja pada perusahaan maupun organisasi. Biasanya perempuan dikenal hanya melakukan pekerjaan yang dikhususkan untuk perempuan seperti mengurus anak, mengurus pekerjaan rumah, dll.
Banyak faktor yang berkaitan dengan mengapa perempuan saat ini banyak yang bekerja, faktor ekonomi adalah masalah terbesar yang dihadapi para kaum perempuan yang menuntut mereka untuk bekerja, faktor tingkat keinginan para perempuan. Sekarang banyak perempuan sudah tidak berfikir seperti dahulu kala dimana ketika mereka besar hanya akan bekerja sebagai ibu rumah tangga, tetapi mereka bisa sekolah tinggi hingga mempunyai keinginan tinggi seperti menjadi seorang bos atau sebagainya. Contohnya seperti sekarang banyak perempuan yang bekerja sebagai TKI di luar negeri, sementara suaminya menjaga rumah, mengurus anak mereka dan menggantikan peran istrinya dirumah. Lalu ada juga manager pada perusahaan di dominasi oleh perempuan.
Permasalahan ini sangat cocok dengan teori dari Feminisme Liberal, teori ini menjelaskan bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Karena itu perempuan harus mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Teori ini termasuk paling moderat di antara teori-teori feminism. Teori ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total dalam semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Dengan demikian tidak ada lagi suatu kelompok jenis kelamin yang lebih dominan. Organ reproduksi bukan merupakan penghalang bagi perempuan untuk memasuki peran-peran di sector publik.

2.2 Seks Dan Peran Gender Dalam Kesetaraan
Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan, termasuk yang sering di sebut dengan laki-laki dan perempuan. Dua makhluk itu memang diciptakan berbeda, yang paling lugas adalah jenis kelaminnya yang sering disebut dengan seks atau jenis kelamin biologis. Penentuan jenis kelamin yang paling mudah adalah merujuk tanda pada alat kelaminnya (genital), maka ketika bayi lahir penentuan jenis kelamin dapat dilihat pada tanda-tanda tersebut. Perbedaan yang mendasar adalah perempuan mempunyai rahim sehingga bisa melahirkan dan mempunyai kelenjar susu sehingga bisa menyusui. Pada seks merupakan sesuatu tanda biologis yang telah ditetapkan (given) dari Tuhan untuk membedakan perempuan dan laki-laki yang hal itu tidak dapat dipertukarkan, yang sering disebut dengan kodrat.
Manusia dari bayi baik itu perempuan dan laki-laki akan mengalami perkembangan. Untuk itu kedua makhluk yang berbeda jenis ini harus bisa terus dibedakan. Membedakannya berdasarkan seks terus-menerus jelas tidak mungkin karena menyangkut masalah biologisnya (fisik). Maka pada perkembangannya pembedaan tidak dilihat dari fisiknya tetapi diluar itu yang sering di sebut gender. Gender atau jenis kelamin sosial diistilahkan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikontruksi secara sosial maupun kultural dan itu dapat dipertukarkan.
            Gender dalam setiap kelompok masyarakat berbeda-beda, faktor seks juga mempengaruhi yang dicoba disesuaikan, atau kadang terkesan dipaksakan. Yang paling umum pembedaan laki-laki dan perempuan misalnya dilihat dari pakaiannya, perempuan pakai rok sedangkan laki-laki pakai celana. Perempuan berambut panjang sedangkan laki-laki berambut pendek, berkumis atau bercambang. Pembedaan juga dipresepsikan dengan tingkah laku, perempuan identik dengan lemah lembut, emosional, sedangkan lelaki dianggap kuat, perkasa, dan rasional. Perbedaan lain kadang menyangkut peran dalam kehidupan sosial dan keseharian, bahwa perempuan mempunyai peran di dalam rumah (domestik) seperti memasak, mencuci, mengasuh anak, sedangkan laki-laki diluar rumah dengan yang bertugas mencari nafkah.
Pada perkembangannya peranan gender banyak digugat oleh kaum perempuan dengan menuntut kesetaraan (emansipasi). Hal ini didasarkan pada ketidakadilan gender yang menyangkut peran dalam rumah tangga, partisipasi di ruang publik baik menyangkut sosial dan politik, dan penilaian kinerja yang tidak berimbang. Maka tidak heran akibat gerakan emansipasi itu, perempuan mulai menjamah domain yang selama ini menjadi dominasi kaum laki-laki. Dalam dunia kerja misalnya kaum perempuan sudah banyak menduduki posisi puncak dalam perusahaan, dalam politik juga demikian menduduki posisi jabatan strategis seperti ketua partai, kepala daerah sampai juga kepala pemerintahan sudah menjadi hal yang biasa.
Dalam dunia tenaga kerja memang di sana-sini masih dijumpai ketidakadilan gender tersebut, dengan posisi, tugas dan wewenang yang sama perempuan dalam pendapatan upah memperoleh jumlah di bawah kaum laki-laki. Hal itu menjadi isu sensitif tidak saja menyangkut ketidakadilan tetapi juga adanya eksploitasi yang kadang dihubungkan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Kaum perempuan juga menuntut perlakuan yang khusus berkenaan dengan kodratnya, misalnya perlunya cuti haid, hamil, dan waktu menyusui. Keinginan itu kadang mendapat hambatan karena menyangkut produktivitas sebuah perusahaan.
Perempuan dan laki-laki memang makhluk yang berbeda, terutama menyangkut seksnya. Di antara keduanya tentu punya kekurangan dan kelebihannya, untuk itu diharapkan dengan berbagi peran dapat saling menutupi dan melengkapi. Seks sifatnya permanen dapat diumpamakan hardware sedangkan gender bersifat fleksibel, dapat dipertukarkan, dan dinamis dapat diumpamakan software. Bagi perempuan dan laki-laki yang menjadi suami istri peranan secara gender dapat dikompromikan. Di beberapa kasus banyak juga dijumpai istri yang mencari nafkah dan suami yang menjaga di rumah dan mengasuh anak beserta urusan rumah tangga lainnya. Dan itu tidak menjadi persoalan yang berarti bagi keduanya dan pandangan masyarakat, terutama yang berada di kota besar.
Masalah emansipasi harus dapat ditempatkan secara proposional antara kedudukan dan tuntutan. Tidak semua yang selama ini sering menjadi domain laki-laki harus di masuki perempuan. Adanya suatu kesadaran peranan dan penghargaan yang proporsional itulah yang diperlukan, satu sama lain –terutama laki-laki- untuk saling menghargai dan bertoreransi. Pembedaan secara gender harus dapat dimaknai secara positif, untuk itu perlu menyertakan prinsip-prinsip kesetaraan, keadilan dalam penerapanya.  Dalam suatu waktu keduanya dapat berbagi peran semata-mata untuk kebutuhan dan kesadaran, tidak karena didasarkan adanya diskriminasi. Memang mensinkronisasi keduanya bukanlah perkara yang mudah karena menyangkut beberapa aspek mulai sosial, budaya, dan agama.  Membentuk formulasi yang sesuai akan masih dan terus berlangsung. Dinamisasi tidak akan ada habisnya karena peradaban manusian mengalami perkembangan dan penyesuaian.

2.3 Kesetaraan Gender Mempengaruhi Peran Jenis Kelamin Sosial
            Dari pembahasan-pembahasan tersebut dapat dimengerti bahwa Gender atau jenis kelamin sosial merupakan perilaku yang diperankan oleh jenis kelamin biologis, yaitu wanita dan pria. Seks merupakan jenis kelamin yang secara nyata sudah ada sejak lahir dan merupakan kodrat yang tidak dapat diubah, kecuali melalui operasi. Peran gender itu sendiri dapat dilihat dalam perilaku sehari-hari secara sosial, seperti laki-laki yang menjalankan kewajibannya untuk bekerja dan mencari nafkah, sedangkan wanita melakukan pekerjaan seperti memasak, membesarkan anak, mengikuti arisan, dan lain-lain.
            Namun, jaman sudah berubah, terlebih lagi setelah adanya bentuk emansipasi wanita. Dimana seorang wanita memiliki kebebasan untuk melakukan hal-hal diluar peran gender nya. Bahkan sekarang ini sudah banyak kita temukan wanita-wanita yang memilih bekerja dibandingkan dengan memasak,merajut, dan lainnya. Bukan hanya wanita, pria juga senang melakukan hal-hal diluar peran gender nya, seperti memasak, mengikuti arisan, dan menjahit. Kita juga lebih sering menemukan seorang chef yang berkelamin laki-laki, dan rasa masakannya pun tidak kalah dengan masakan buatan tangan wanita.
            Lalu melalui penampilan, sekarang ini wanita lebih sering menggunakan celana yang pada dasarnya celana merupakan simbol identik bagi kaum pria. Dan pria senang meggunakan aksesoris seperti anting, kalung, bahkan gelang, yang kita semua tahu bahwa aksesoris seperti itu merupakan sisi feminim dari seorang wanita.
Melalui bukti-bukti tersebut, kesetaraan gender kini sudah sangat mempengaruhi peran jenis kelamin sosial yang seharusnya. Dengan hal itu, Emansipasi sekarang ini dapat kita katakan bukan hanya untuk wanita, tetapi juga pria. Karena Gender bersifat sosial budaya dan ini mengacu pada kualitas feminin dan maskulin, pola, perilaku, peran, tanggung jawab, dan lain- lain. Upaya mendorong kesetaraan gender juga menjadi penting karena terdapat berbagai bentuk kesenjangan dan ketidakadilan gender di masyarakat. Upaya mendorong kesetaraan dan keadilan gender dilakukan karena gender sebetulnya bisa diubah dan dikonstruksi oleh manusia. Ini bukan sesuatu yang alamiah.

















BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Gender tidak identik dengan seks. Peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dapat dipertukarkan atau dapat berganti sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Pembedaan peran dan tanggung jawab berdasarkan gender juga bukan sesuatu yang berdasarkan kodrat tuhan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa, seks itu bersifat kodrat (pemberian dari tuhan) dan tidak dapat diubah, sedangkan gender berasal dari perilaku sosial dan dapat diubah sewaktu-waktu.
Peran gender dapat berubah tidak sesuai dengan jenis kelamin biologisnya. Ini dinamakan Kesetaraan Gender, kurang lebih sama seperti istilah Emansipasi wanita. Kesetaraan gender merupakan kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas) serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.
Dalam memecahkan permasalahan ini, tentang Bagaimana Kesetaraan Gender Mempengaruhi Peran Jenis Kelamin Sosial, dapat dikatakan bahwa ini dimulai sejak adanya Emansipasi Wanita, dimana para wanita pada jaman R.A Kartini memperjuangkan hak nya untuk dapat meraih cita-cita dan melepaskan diri dari pengekangan hukum yang membatasi diri mereka untuk berkembang dan maju. R.A Kartini juga bermaksud bahwa gerakan ini bertujuan agar wanita indonesia dapat memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan seluas-luasnya, dan setinggi-tingginya. Sejak saat itu, peran jenis kelamin sosial atau gender yang sebenarnya sudah berubah, wanita melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan pria, begitu juga sebaliknya, pria melakukan hal-hal yang biasa dilakukan wanita. Dari segi pekerjaan, pendidikan, penampilan, dan interaksi sosial. Terwujudnya kesetaraan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, kontrol atas pembangunan dan memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. 


3.2 Saran

            Pembelajaran yang berorientasi pada kesetaraan gender adalah pembelajaran yang membuka pikiran dan mengasah sensitivitas mahasiswa terhadap peran gender. Pembelajaran yang ada pada makalah ini akan membentuk kesadaran akan kesetaraan gender, dari kesadaran inilah diharapkan mahasiswa dapat mengambil nilai-nilai positif untuk dapat berkontribusi dalam perilaku sosial.



























DAFTAR PUSTAKA


https://www.slideshare.net/MasrinForester/sex-dan-gender